MRIRadiography Technique
Trending

Parameter Pulsa Sekuen pada Modalitas MRI

Selain parameter pencitraan, terdapat pula parameter pulsa sekuen pada modalitas MRI. Parameter pulsa sekuen merupakan parameter yang mempengaruhi secara langsung karakteristik citra yang akan dihasilkan.

Time of Repetition (TR)

Time of Repetition memiliki satuan dalam milidetik. TR menentukan interval waktu antara dua pulsa eksitasi RF 90°. Namun, sekuen Single Shot Spin Echo (SSFSE, HASTE) atau gradient echo (EPI) menggunakan penerapan pulsa eksitasi RF tunggal atau kurang dari 90°, sehingga nilai TR dapat menjadi tidak sesuai.

“TR dapat bernilai sangat panjang dan TR yang sangat panjang tersebut hanya bisa menghasilkan kontras T2/T2*.”

Dalam sekuen berbasis spin echo, pemilihan TR dan TE menentukan bobot citra T1, T2, atau PD. Dalam sekuen berbasis gradient echo, terutama teknik fast dan ultrafast gradient echo, citra T1, T2*, atau PD ditentukan oleh nilai TR, TE, dan flip angle (FA).

“Berdasarkan dari hasil penelitian oleh Indrati (2016), nilai TR dapat mempengaruhi nilai SNR dan CNR.”

Time Echo (TE)

TE diukur dalam satuan milidetik dan didefinisikan sebagai waktu dari pusat pulsa RF eksitasi awal (biasanya 90°) hingga waktu dimana sinyal (echo) mencapai maksimum. Untuk sekuen spin echo, waktu dapat didefinisikan sebagai dua kali waktu antara pulsa RF 90° dan 180°.

Untuk sekuens multiecho tipe FSE (atau TSE), SSFSE, dan EPI, pada beberapa kondisi tertentu beberapa pulsa RF 180° dilakukan pemfokusan ulang (untuk sekuen berbasis spin echo) atau pengubahan multi gradien ulang yang memiliki TE efektif. Berikut adalah Gambar 1. citra dengan nilai TE 80 ms dan 175 ms:

Parameter Pulsa Sekuen - Citra dengan TE 80 ms dan 175 msGambar 1. (A) Citra dengan TE 80 ms dan (B) 175 ms (Elmauglu, 2012).

Pemilihan nilai TE yang lebih tinggi dapat dilakukan untuk menghasilkan pembobotan citra T2. Seperti yang telah ditunjukkan pada citra diatas, dengan memilih TE 80 atau 175 ms dapat menghasilkan pembobotan citra T2.

TE yang lebih rendah dari 80 ms menghasilkan pembobotan citra T2 yang relatif lebih rendah dengan nilai SNR yang sangat tinggi dan citra terlihat sedikit lebih tajam.

Disisi lain, nilai TE yang lebih tinggi dari 175 ms menghasilkan pembobotan citra T2 yang lebih tinggi dengan nilai SNR yang lebih rendah dan menghasilkan citra yang sedikit terlihat jauh lebih blur.

TE dapat digunakan untuk mengoptimalkan kontras citra (CNR) diantara berbagai jaringan. Dibagian otak, GM (Gray Matter) dan WM (White Matter) merupakan dua jenis jaringan utama. TE dengan nilai sekitar 100 ms akan memberi nilai CNR yang terbaik untuk pencitraan T2 dalam sekuen SE atau FSE untuk akuisisi TR yang panjang.

Effective Echo Time (Eff TE)

Untuk citra multi-echo, pemilihan nilai TE juga dapat dilakukan oleh radiografer. Namun, khususnya dalam sekuens tipe FSE atau HASTE, nilai TE dapat berbentuk sebagai nilai multipikasi saat pemfokusan ulang waktu antara dua pulsa RF 180°.

“Waktu ini disebut sebagai Echo Spacing dan salah satu parameter yang diatur secara otomatis oleh sistem.”

Sebagai contoh, jika memasukkan waktu TE 100 ms untuk akuisisi pembobotan citra T2 sekuen FSE atau TSE, kemungkinan waktu TE efektif adalah sebesar 97.6 atau 102 ms.

Penempatan echo akan bergantung pada kekuatan gradien sistem dan laju perubahan tegangan. Perbedaan antara waktu TE asli dengan TE efektif sangat kecil dan mungkin tidak memiliki perbedaan yang signifikan pada kualitas citra yang dihasilkan.

Echo Train Length (ETL) atau Turbo Factor

ETL atau faktor turbo dapat didefinisikan sebagai jumlah pemfokusan kembali pulsa RF 180° setelah pulsa RF eksitasi awal. Urutan FSE atau TSE dengan jumlah echo yang lebih tinggi ditemukan setelah pulsa echo awal dan mengurangi waktu akuisisi citra MRI secara signifikan untuk pembobotan citra T2 dan PD.

Semakin tinggi ETL atau faktor turbo biasanya nilai T2 semakin tinggi, waktu akuisisi yang lebih pendek, jumlah irisan yang lebih sedikit, artefak akibat pergerakan yang lebih banyak, dan citra yang kurang tajam (blur). Berikut adalah Gambar 2 citra dengan nilai ETL 8 dan 24:

Parameter Pulsa Sekuen - Citra dengan ETL 8 dan 24.Gambar 2. (A) Citra dengan ETL 8 dan (B) 24 (Elmauglu, 2012).

Karena banyak keunggulannya, sekuens FSE sangat sering digunakan dalam pemeriksaan tujuan klinis. ETL diatur sekitar 2 – 3 untuk citra dengan bobot T1, 6 – 8 untuk citra dengan bobot PD, dan 12 – 30 untuk citra dengan bobot T2.

Pada Gambar 2 diatas menunjukkan citra yang diperoleh dengan ETL 8 dan 24. Terlihat sedikit kesan bahwa ETL 24 memberikan bobot T2 yang lebih baik untuk waktu TE yang sama dan citranya sedikit terlihat lebih kabur (blur).

Pememilihan ETL dapat dilakukan selama masih dalam kisaran nilai yang disarankan yang berfungsi untuk mengoptimalkan protokol dalam pencitraan.

Echo Spacing

Echo spacing didefinisikan sebagai waktu antara dua pulsa RF 180°. Biasanya nilai echo spacing tidak dapat dilihat pada pengaturan oleh pengguna. Namun, untuk mengurangi nilai echo spacing kita dapat mengurangi nilai resolusi atau meningkatkan RBW.

Flip Angle (FA)

FA atau sudut kemiringan ditunjukan oleh pulsa eksitasi RF awal dan diukur dalam satuan derajat. FA merupakan indikator seberapa besar magnetisasi MRI yang didorong ke bidang transversal (Mxy).

FA pada sekuen dengan basis spin echo biasanya sebesar 90° dan dapat bervariasi dari 5° hingga 90° untuk rangkaian sekuens gradient echo yang lebih luas untuk membuat kontras citra yang diinginkan dan untuk mempercepat perolehan sinyal MRI.

FA merupakan salah satu parameter utama dalam citra gradient echo yang mempengaruhi kontras citra yang dihasilkan.


Referensi:

ARTIKEL

EXCELLENT

User Rating: 5 ( 1 votes)
Source
Elmaoğlu, Muhammed dan Azim Çelik. 2012. MRI Handbook: MR Physics, Patient Positioning, and Protocols. Springer. New York.Indrati, Rini, Heriansyah, dan Wakhrudin. 2016. Analisis Variasi Time Repetition (TR) terhadap Signal to Noise Ratio dan Contrast to Noise Ratio pada Pemeriksaan MRI Cervical T2 Weighted Fast Spin Echo (FSE) Potongan Sagital. Jurusan Teknik Radiodiagnostik dan Radioterapi Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan Semarang. Jurnal Imejing Diagnostik (JImeD). Semarang. Volume 2(1) pp: 119-123.
Show More

Wingghayarie Patra Gandhi

I am a radiological technologist whose vision is to make the field of radiology become more and more recognized.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back to top button